CARA MERAWAT TANAMAN JERUK DALAM POT

blogger templates
CARA MERAWAT TANAMAN JERUK DALAM POT
Setelah kita melakukan penanaman tanaman jeruk dalam pot tentunya berbeda dengan menanam tanaman
http//:abimkazama2.blogspot.com
jeruk di media tanah atau pekarangan. Perawatan dan pemerliharaan haruslah dijadikan skala prioritas, karena jika tanaman jeruk dalam pot tidak kita rawat, maka tidaklah akan berbuah, jangankan berbuah lebat ada kemungkinan tanaman jeruk dalam pot lambat laun akan mati.
Mari kita simak satu persatu bagaimana cara merawat tanaman jeruk dalam pot..!
1.       PEMANGKASAN TANAMAN
Tidak semua ranting dan cabang tanaman jeruk bisa menghasilkan buah. Dalam pertumbuhannya, tanaman jeruk dalam pot sering mengeluarkan ranting dan beberapa cabang air yang hanya menghabiskan energi tanaman. Ranting dan cabang yang tidak produktif ini biasanya tumbuh di tengah-tengah batang atau di batang bawah. Jika ranting atau cabang yang tumbuh ini berasal dari batang bawah yang letaknya di bawah sambungan (bibit jeruk berasal dari okulasi atau sambung pucuk) akan mengalahkan pertumbuhan batang bagian atas sehingga buah yang keluar tidak seperti yang dikehendaki.
Dalam merawat tanaman jeruk dalam pot, ranting dan cabang seperti itu perlu dipangkas agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Pemangkasan juga dapat memperindah bentuk percabangan tanaman dan energi untuk pembuahan tidak terbuang percuma. Kegiatan pemangkasan ini haruslah rutin dilakukan jangan menunggu keluar ranting atau cabang yang tidak dikehendaki. Perawatan pemangkasan pertama kali dilakukan sejak bibit dipindahkan ke dalam pot penanaman,
Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi daun dan ranting agar penguapan pasca pemindahan bibit ke dalam pot tidak terlalu besar.
Cabang tanaman jeruk juga bisa dibentuk lewat pemangkasan. Pemangkasan ini dilakukan biasanya 2 bulan sejak bibit ditanam di dalam pot. Pemangkasan dilakukan dengan menjarangkan cabang yang berdekatan dan cabang yang terlalu rendah, termasuk cabang air. Salah satu cabang yang letaknya tumpang tindih dan jaraknya kurang dari 5 cm sebaiknya dibuang. Selain mengurangi cabang yang kurang produktif, pemangkasan juga berguna untuk mencegah serangan hama dan penyakit yang gemar bersarang di tempat yang rimbun dan lembap, seperti kutu putih, aphid, dan beberapa jenis cendawan.
2.       PENYIRAMAN
Selama dalam perawatan, pemberian air atau penyiraman tanaman jeruk dalam pot perlu diatur karena 80% buah jeruk mengandung air. Selain untuk pembentukan buah, air juga dibutuhkan oleh tanaman untuk berfotosintesis; untuk mengangkut makanan dari daun ke seluruh jaringan tanaman; dan untuk mengganti cairan yang hilang, baik lewat daun maupun lewat tanah.
Tanaman jeruk yang tidak ditanam dalam pot bisa mengambil air dari tanah lewat akar. Namun, media tanaman jeruk dalam pot terbatas sehingga akarnya tidak bisa menembus lapisan tanah di bumi. Karena itu, tanaman perlu disiram, terutama pada musim kemarau.
Penyiraman dilakukan pada pagi hari dengan cara memberi air ke media tanaman yang ada dalam pot . pemberian air bisa menggunakan selang ataupun ember. Jumlah air yang diberikan san waktu pemberiannya sangatlah tergantung dari kondisi kelembapan media tanam itu sendiri.
Jika dimusim hujan pemberian air jangan terlalu banyak bahkan jika terlalu banyak genangan air yang ada di media tanaman dalam pot, dikhawatirkan tanaman akan menjadi busuk karena terlalu banyak air.

3.       PEMUPUKAN
Kebutuhan unsur hara pada tanaman jeruk yang tumbuh di pekarangan atau hutan dipenuhi dari tanah tempat hidupnya. Walaupun unsur hara yang diserap tidaklah optimal, tetapi tanaman jeruk tersebut bisa berbuah lebat. Berbeda dengan tanaman jeruk dalam pot sangat lah terbatas sehingga unsur hara yang dibutuhkan untuk vegetatif dan generatifnya juga sangat terbatas, karena itu unsur hara perlu disuplai dari pupuk agar tanaman bisa berbuah. Pupuk yang digunakan biasanya menggunakan pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik yang diberikan untuk tanaman jeruk dalam pot adalah berupa kotoran kelalawar, kotoran ayam, kambing, kotoran sapi, kotoran kuda, kotoran kerbau, atau kotoran manusia yang sudah matang dan sudah terfermentasi. Selain dari kotoran hewan, pupuk organik juga bisa disuplai lewat kompos yang dicampur dengan tanah dan biasanya digunakan pertama kali pada saat penanaman. selanjutnya, kompos diberikan setahun sekali atau bersamaan dengan saat pergantian media tanam. Selain berfungsi sebagai unsur hara, pupuk organik ini juga berguna untuk menggemburkan tanah dan menstabilkan pH (keasaaman) media tanam.
Adapun Pupuk anorganik atau pupuk buatan diberikan lewat pupuk kimia, seperti urea, ZA, SP-36 atau TSP dan KCL ataupun NPK.
Beragam jenis pupuk anorganik yang ada dipasaran dan yang kita pakai tentunya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman itu sendiri, karena ada pupuk pembasi hama daun, maka kita gunakan pupuk anorganik yang berfungsi membasi hama daun dan seterusnya.
Semoga artikel kecil ini bisa bermanfaat ya..!