cerpen bahasa indonesia

blogger templates
Cerita Masa Kecilku
http//:abimkazama2.blogspot.com
Aku dilahirkan dari keluarga seorang petani dikampung salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat tepatnya di Sukabumi, disanalah tempat kelahiranku berasal.

Aku memiliki dua saudara perempuan dan aku anak laki-laki satu-satunya, sehingga orang tuaku mungkin sangat mengharapkanku untuk meneruskan perjuangan mereka. Namun entah kenapa sejak aku keluar SD aku bercita-cita untuk melanjutkanku ke SMP / SLTP (waktu itu ), padahal orang tuaku sangat keukeuh alias mesti harus melanjutkan sekolahku ke MTS yang baru di bangun oleh saudara ayahku sendiri; tapi entah kenapa hati iini terasa berontak dan tak mau rasanya melanjutkan ke MTS padahal jaraknya cukup dekat dari rumahku hanya berbeda kampung dan masih satu desa,; lantas aku bercita-cita sejak masuk kelas enam SD ingin melanjutkanku ke SMP/ SLTP 1 yang pada waktu itu menjadi sekolah Favorit di daerahku selain muridnya banyak juga kualitasnya cukup oke, yang jelas aku ingin merasakan pergi ke Sekolah dengan menggunakan Mobil meskipun harus naik angkot; dasar anak bandel mungkin inilah kata orang tuaku begitu padahal di Sekolah / Madrasah yang baru di bangun saudara ayahku itu cukup megah dan disediakan asrama Pondok Pesantren, tapi aku lebih baik memilih SMP/ SLTP dan mondok di tempat saudara yang agak dekat dengan akses jalan raya.


Sejak masuk kelas enam SD aku punya sahabat karib perempuan dia bernama Susi dia adalah orang yang menemani belajarku selama di kelas enam, Karena aku ingin melanjutkan ke Sekolah favoritku, aku habiskan hari-hariku untuk belajar bersama seusai pulang sekolah dan mengganti jam bermain dengan jam belajar dan menghapal bersama sang sahabat karib perempuanku.

Singkat cerita tibalah waktu Ujian Nasional (UN) dan selang beberapa bulan menjelang akhir tahun pelajaran sekolah tibalah saat-saat yang paling menegangkan yaitu pengumuman kelulusan serta hasil Nilai Ujian (waktu itu masih menggunakan nama NEM) dan alhamdulillah NEM ku 36 masuk standar minimal untuk masuk ke sekolah Favoritku SLTPN 1 Sukaraja, dan sahabat karibku mendapatkan NEM 29. Singkat cerita aku dan sahabat karibku tidak bisa bersama-sama lagi seperti halnya masih di kelas enam SD karena harus melanjutkan ke Sekolah yang berbeda karena NEM sahabat karibku kurang memenuhi standar penerimaan siswa baru untuk SLTPN 1 dan pada akhirnya dia (sahabat karibku) melanjutkan ke SLTPN 2 Sukalarang.

Dan itulah akhir perjuangan aku bersama sahabat karibku (SUSI)



SEKOLAH FAVORITKU DAN PONDOKKU TERCINTA

Setelah aku keluar dari SD dan orang tuaku pun tidak bisa memaksaku untuk melanjutkanku ke Madrasah Tsanawiyah milik saudaraku; mungkin melihat kegigihanku selama belajar di kelas enam SD lalu sehingga Alhamdulillah Alloh mengabulkan do’aku selama ini dengan berbekal NEM 36 aku didaftarkan guruku ke Sekolah Favorit ku waktu itu; tapi orang tuaku berkeinginan agar aku tinggal di Pondok Pesantren dimana bibiku tinggal “ disanakan ada Pesantren dimana Kakakku juga belajar mengaji disana” kata orang tuaku dan aku pun mengiyakan usulan itu, karena selain tempatnya lebih dekat ke Jalan Raya dan akupun tidak ingin kalau sekolah meninggalkan kesempatan untuk belajar agama, makanya akupun mensetujui apa yang orang tua ku inginkan.


Setelah aku masuk di Sekolah Favoritku ada hal yang cukup menarik dan masih saya inggat sampai sekarang yaitu saat Masa Orientasi Siswa (MOS) aku disuruh oleh Kakak seniorku untuk membawa kacang hijau sebanyak 1996 dan pentungan beduk dan akupun seusai pulang MOS aku langsung minta pertolongan bibiku untuk membelikan kacang hijau sebanayak 1996 dan konyolnya aku dan bibiku kacang hijau yang begitu kecil harus aku hitung satu persatu agar sesuai dengan permintaan seniorku ; karena takut kena sanksi mungkin waktu itu karena sekolah itu yang aku idamkan sejak kelas enam SD dan kalau aku tidak ikuti aturannya nanti aku kena sanksi, pikirku waktu itu; kacang hijau satu persatu aku hitung bersama dengan Bibiku sampai 1996 biji dan pesenan satu lagi aku minta pertolongan pada pamanku yaitu membuat pentungan beduk berwarna merah. Akhirnya sang pamanpun mengikuti apa yang aku inginkan sehingga semalam suntuk pamanku tidurnya agak malam karena terganggu harus membuat pentungan berwarna merah pesananku.

Esok paginya aku pun sudah siap berangkat semua pesanan kakak seniorku untuk MOS hari ini sudah lengkap termsauk pentungan merah yang sengaja dibuat oleh pamanku sendiri.

Wish pentungannya sebesar yang ada di Mesjid sebelah sehingga hampir tidak muat dalam Tas sekolahku. Dan sesampainya di sekolah di absenlah kami satu persatu bersama pesanan kemarin. Dan betapa kagetnya aku ternyata yang dimaksud kakak seniorku tentang pentungan berwarna merah itu adalah permen LOLY POP .. akhirnya akupun kena teriakan teman sekelasku dan ketawa ngakakk kakak seniorku.


RENANG GAYA BATU

Aku yang dilahirkan di pegunungan yang tidak ada kolam renang bahkan jika aku melihat sungaipun aku merasa takut dengan derasnya aliran air sungai; dan di sekolah favoritku ini diwajibkan renang bagi seluruh siswanya, sementara aku belum bisa sama sekali berenang dan aku memutuskan untuk tidak ikut latihan berenang; kemudian selang beberapa bulan memasuki semester akan diadakan tes renang sementara aku tidak pernah ikut latihan renang tapi aku sangat berkeinginan untuk ikut karena untuk memenuhi tes prakter olah raga; kalau aku tidak ikut maka aku tidak akan dapat nilai (pikirku waktu itu) akhirnya akupun memutuskan untuk ikut tes renang meskipun teman sekelaskku pada kompak untuk bolos tes renang. 

Sesampainya di kolam renang ternyata cuaca berubah mendung dan tak lama kemudian turunlah hujan deras dengan ditemani petir, tapi anehnya guru ku tidak mengistirahatkan siswa-siswinya meskipun ditengah hujan sederas itu. Tibalah giliranku berenang dan kebetulan aku sendiri yang yang ikut tes untuk kelas 3A. Kolam sedalam 3 meter dan lebar sepanjang 6 meter sudah terhampar dihadapanku yang diguyur hujan dan terikan petir siang itu. Tiga dua satu priiit...! suara peluit guruku berbunyi menandakan aku harus siap siaga dan langsung star berenang byuurrr aku pun langsung berenang Alhamdulillah aku bisa berenang sejauh 2 meter dan aku sulit untuk mencuri napas di tengah-tengah berenangku dan aku pun segera menepi dan guruku berkata TERUSKAN tinggal sebentarlagi kamu sampai ke tujuan, kemudian aku ikuti kata guruku untuk melanjutkan renangku agar sampai ke tujuan. Tapi anehnya aku berenang tanpa membuka mataku karena terasa pedih karena air kaporit kali sehingga aku berenang dengan merem dan kagetnya pas aku buka mataku ternyata kok gelap ya di dalam air itu,,he dan pas aku lihat ada tangan melambai-lambai dari atas seperti akan memberikan pertolongan dan ternyata aku baru sadar kalau aku itu berenang dengan gaya batu bukannya maju malah tenggelam dan akhirnya akupun pegang tangan itu ditariknya aku ke atas dan memang itulah konyolnya aku,,hehe.

Keesokan harinya pas aku memasuki gerbang sekolah semua teman-temanku yang kemarin ikut tes renang menanyaiku ini itu hingga aku terkenal dari kelas ke kelas bahwa kemarin aku berenang dengan gaya batu,, hah memalukan sekali (pikirku).
Bersambung.....